Dokterku yang Tinggal di Bulan

Mungkin Kejadian ini, unik dan tidak semua orang mampu menjalaninya, tetapi aku yakin kamu bisa karena kamu bukan sekedar wanita biasa. Wonder women memang memilki lasso of truth, diamana semua kebenaran bisa terpaparkan, tetapi sekali lagi kamu membuka mataku tentang kebenaran yang lebih dalam maknanya.

 

Nama ku Hans, aku berumur 24 tahun bekerja menjadi Masinis kereta api di suatu lembaga kereta api milik negara. Aku sangat senang dengan pekerjaan ku karena itu lah cita cita ku sejak masih SD.

 

"Hans kalok udah gede mau jadi apa?", ujar Ibu ku sambil menyuapi ku saat bermain.

"Jadi pilot kereta api Bu!", teriakku sambil melahap makanan yang Ibu suapkan.

"heh..., Masinis bukan Pilot", ujar Ibu membalik perkataanku.

"iyaaaa Bu, Masinis, aku mau bawa ibu sama pacar aku nanti di dalam", ujar bocah umur 8 tahun yang masih belepotan hanya untuk makan.

Ibu hanya tertawa dan aku yakin Ibu meng-amin kan seluruh mimpi ku itu. Ingat doa ibu sepanjang masa.

 

Sekarang aku menjadi mimpiku, aku sudah bisa membawa Ibu dan keluargaku untuk naik kereta api yang aku piloti. Sekarang giliranmu Via.

 

Via adalah pacarku sejak semester pertama. Dia adalah wanita karir yang masih koas untuk mendapatkan gelar dokternya. menurutku dia bukan sekedar dokter, dia bisa mengobati luka hanya dengan senyumannya. 

 

"Hans jelek...., jangan lupa minum obat demam nya ya!", ucapnya yang sangat bawel di telpon.

"Iya iya bu dokter, tapi bu di sini tertulis 'obat ini harus di awasi dokter', ibu gak mau ke sini buat awasin aku", ujar ku yang sedikit menggoda kamu.

"Gak boleh, bu dokter sibuk, banyak pasien lain. Walaupun kamu memang pasien VIP di hati ibu, gak boleh manja", kamu menggoda ku kembali.

"Siap bu dokter, tapi aku mau minta senyuman ibu sedikit boleh kan, soal nya saya butuh sedikit glukosa dan fruktosa hehe", aku kembali menggoda.

Kamu langsung mengirim foto lucu dengan senyuman imut memakai baju koas putih yang terlihat cocok dengan badanmu.

 

Tidak lupa kebiasaan mu yang sudah seperti dokter pribadi ku. melarang ini dan itu, mengatur pola makanku dan isitirahatku. Via Agustina Kianaro kamu memang dokter yang hebat, aku gak bakal tau gimana mendiskpresikan betapa luar biasanya kamu.

Kamu tidak hanya mengawasi ku, kamu juga sering menjalankan pengobatan gratis dan pengecekan gizi bagi orang orang tidak mampu. kamu pernah membatalkan janji kita, dan malah pergi membantu anak anak yang terkena busung lapar dan gizi buruk. Aku tau kamu Seorang "angel" tapi bisa nggak liat di sini ada mas mas masinis yang ingin kamu naik ke kereta nya hanya untuk melengkapi puzzle kehidupannya.

Memang cukup egois meminta dunia untuk membiarkanku mengikat sementara bidadarinya, tetapi aku merasa aku adalah pangerannya yang sudah ku curi pakainnya dan dia tidak bisa terbang lagi. 

 

Dan benar saja semua itu tidak di izinkan Tuhan...

 

Pukul 4 sore aku mengajakmu untuk makan malam di sebuah restoran dekat sungai yang tenang. aku pulang kerja sekitar jam 3 sore dan mempersiapkan semuanya. Aku membeli coklat kesukaanmu dan  boneka teddy bear kecil bertuliskan "bu dokter aku sakit butuh pelukan bu dokter". Hari itu adalah ulang tahun mu ke 23. 

 

Dari kejauhan aku mulai melihat gadis manis dengan liptin manis di bibir nya, masih memakai seragam koas putih dan membawa banyak buku anatomi tubuh bersamanya, mungkin kamu sudah membelah kista orang lain, tetapi aku yakin penyakit apapun tidak berarti jika berhadapan denganmu. 

"heh jelekk... jangan bengong doang dong, pacarnya ultah nih!!!", kamu yang terlihat bete karena aku hanya melihat mu, bengong dan terpesona.

 

"Eh bu dokter... nggak bu itu tadi aku terkena mioklonus", aku sedikit ngeless dengan ucapan ilmiaah kedokteran.

 

"Sini ibu dokter periksa dulu, diam ya!", tiba tiba kamu mendekat padaku dan mencium pipiku.

"Sudah sembuh bu dokter!!!", aku langsung salting dan malu.

Suasana saat itu sangat menjanjikan, aku ingin hari ini tidak berakhir, tetapi bulan memaksa kami untuk pergi.

sebelum pergi, aku tidak menyangka ternyata Tuhan sudah tidak sabar lagi. Dari kejauhan banjir bandang datang. Air dan Batu yang biasa nya tidak bersahabat, sekarang bersama sama menghempas orang orang yang ada di sungai itu. Aku terhempas ke arah berlawanan dengan kamu. 

 

"Viaaa...... ", teriakku sambil setengah menahan gemparan batu.

"Hanssss... tolong aku", suara mu yang mulai samar samar dan mulai hilang ditelan dua sahabat air dan dan batu.

"Viaaa... tunggu aku", aku mulai menerobos semua batuan demi mencari mu.

Banjir dan hujaman batu mulai makin besar. Kali ini aku tidak melihat satu orang pun disana. Banjir terus membawa ku entah kemana. Mirip seperti kereta api tetapi kali ini lebih dingin, hampa dan sakit.
Aku melihat sebuah batang pohon yang diam dan cukup besar, aku mulai meraihnya dengan semua kekuatankku dan bertahan di sana. 

 

Aku terdiam, terpaku dan tidak bisa mengucapkkan apa apa lagi.

 

Di sana aku melihat bulan yang sangat besar dan indah. Bulan seperti ingin berbicara kepadaku. 
"saatnya bidadari mu kembali ke asalnya, dia terlalu indah untuk kau miliki, sebagai gantinya kamu hanya bisa melihat tempat tinggal nya di malam hari, yaitu aku Bulan", percakapan ini seolah olah berputar di kepala ku dan membawa ku mulai kehilangan kesadaran.

 

...

 

Aku kemudian terbangun di sebuah Rumah sakit dekat dengan pusat kota. Aku hanya melihat Ibu dan keluargaku menangis bahagia karena masinsinya telah kembali.

pertanyaan ku cuma satu kala itu, 

"Bu, Via dimana ?".

Ibu hanya diam dan berkata "dia sudah di hatimu dan sedang membuka klinik kecil untuk mengobati hatimu", ibu memberikan boneka teddy kecil yang tadinya aku berikan ke Via. Bonekanya terlihat kotor dan robek di semua sisi. Aku hanya memeluk boneka itu dan menangis kencang hingga luka ku kembali terbuka.

...

 

Aku yakin bu dokter sedang mengobati semua orang dari kejauhaan.

Aku juga yakin bu dokter sudah mengobati hatiku.

Orangtua mu tidak menyalahkanku mereka malah sangat berterima kasih karena sudah membuat anaknya sebahagia itu.

Aku hanya bisa melihat ke kereta api yang sedang aku bawa, sambil merasakan dinginnya terpaan angin. Aku juga selalu melihat rumah mu pada malam hari. Yaps itu BULAN. 

"Hi bulan yang indah nan cantik, bisa nggak kamu sedikit membuka jendela mu, aku ingin melihat senyuman bidadari yang ada di dalam sana".

 

...

 

"Tidak bisa ya?".

 

"Jika tidak, tak apa aku akan mencobanya sendiri...".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamster Kecilku

Attack Office (Eps 2: Kehancuran)