Attack Office (Eps 2: Kehancuran)

Mimpi buruk yang menjadi kenyataan...

Apa arti dari semua ini...

Apa mungkin hanya imajinasi atau...

kesengsaraan dan pengenapan dari berakhirnya salah satu umat yang disebut manusia!

Kembali denganku Proton, Aku seorang pegawai kantor biasa yang tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Pada saat menjaga Pak Wawan dan melihat Ibu Perawat masuk ke ruangan Pak Wawan membuat diriku terdiam, terpaku dan terpaksa menyaksikan kengerian yang lebih mengerikan dari dipukuli dan ditendang oleh Ayahku sendiri.

"Tolong..., tolong saya pak prot, sakit..., saya belum mau ma.. ma..."Suara Bu Perawat yang terlihat kesakitan dibarengi suara cabikan dan gigitan yang brutal.

Ku hanya bisa terpaku melihat dari kaca pintu, Pak Wawan seorang pegawai yang biasanya terlihat ramah dan baik berubah menjadi monster zombie dengan badan mutan, mencabik Bu Suster dan mengigitnya hingga tidak lagi menyerupai manusia. Pak Wawan juga sepertinya melihatku yang terdiam dan terpaku dan mencoba mendobrak pintu yang sebenarnya belum terkunci. Darah di setiap wajah dan lubang dibadannya membuatku berpikir kembali, Apakah ini hanya mimpi?.

Sekitar tiga puluh detik aku terdiam, kini Pak Wawan atau bisa disebut Zombie Wawan mendobrak pintu hingga kacanya pecah. Aku mulai bergerak, bergegas mengunci pintu dan segera berlari memberitahu Felicia akan hal ini. Belum sempat berlari, aku melihat Bu Perawat berubah menjadi monster yang sama seperti Pak Wawan, mereka seperti ingin memakan jantungku dan otakku. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju kantor Felicia. Sesampainya di kantor, aku langsung membuka pintu tanpa mengetuk dan meminta izin seperti pegawai biasa lainnya, dan betapa terkejutnya aku melihat boss mesum sedang bersama Felicia dan memegang-megang bagian intim dari Felicia.

"Pegawai kurang ajar, apakah sopan masuk keruangan Boss mu seperti itu?" Teriak Pak Adi

"Saya tidak peduli dengan apapun yang kalian lakukan, tetapi yang pasti kalian harus melihat kondisi Pak Wawan dan Bu Perawat di ruang UKS, Segera!!!" Ucapkku tegas, tanpa melihat Felicia sedikitpun.

Mereka berdua kemudian percaya dan segera mengikuti ku untuk pergi ke ruang UKS kantor yang ada di lantai bawah. Betapa terkejutnya kami, setelah melihat apa yang terjadi di UKS pada saat itu. Pak Wawan dan Bu Perawat tidak berada lagi di UKS, ruangan itu hanya ditinggalkan berantakan, dengan banyak darah dan isi perut yang membuatku mual, aroma kentang busuk yang menyengat juga membuat kepalaku pusing.

"Apa yang telah kau lakukan Proton?" Tegas Pak Adi sambil mencekikku.

"Apa yang kulakukan?, pertanyaan macam apa itu boss mesum, yang berduan dengan CO-founder nya sendiri, padahal sudah menikah dan mempunyai anak, gila jabatan, gila hormat dan hanya ingin pendapatan dan keuntungan yang besar. Boss brengsek" Ujarkku dengan emosi, sambil melepaskan cekikan Pak Adi dengan keras.

Mereka berdua terdiam dan terduduk tanpa ada ucapan sedikitpun. Jelas bahwa kami putus asa, apa yang terjadi dan apa yang akan kami lakukan belum terpikirkan sama sekali. Hanya ada satu cara yang mungkin bisa dilakukan. Mencari Pak Wawan dan Bu Perawat dan mengurungnya. Aku kemudian mendiskusikan ide ku ini kepada Pak Adi dan Felicia, kini kami seperti satu tim yang kompak untuk membasmi kejahatan. Pak Adi dan Felicia segera menelpon setiap bagian kantor untuk berjaga-jaga dan segera menangkap Pak Wawan dan Ibu Perawat jika melihatnya. Begitu juga dengan kami yang menelusuri dan mencari kemana pergi nya kedua monster itu.

Sekitar jam 13:00 siang, terjadi kekacauan di kantor bagian pemasaran, mereka memberitahukan bahwa Pak Wawan berada di sana dengan luka yang aneh dan berlumuran darah, ketika mereka ingin menenangkan Pak Wawan ternyata mereka di serang dan digigit oleh Pak Wawan, tetapi itu tidak menggentarkan Saiful kepala bagian pemasaran untuk menahan Pak Wawan. Mendengar informasi ini kami segara menuju ke sana dan melihat kondisi Pak Wawan. 

Kantor Pemasaran berada di tengah atau penghubung dari segala bagian kantor, sehingga mudah diakses. Sesampainya di sana, aku melihat kepanikan dan tangisan melebur, ada beberapa staff pemasaran yang tergeletak dilantai dengan isi perut terurai begitu juga dengan Pak Wawan yang masih di tahan oleh Saful. Pak Wawan terlihat seperti harimau yang ingin memakan siapa saja karena lapar. Saiful yang kelelahan dan sudah tergigit dibagian tangan mulai meminta bantuan.

"Pak Adi, Ibu Felicia, tolong ambilkan tali, saya akan ikat Pak Wawan agar tidak menyerang siapapun" sambil tetap memegang Pak Wawan yang terus mengamuk. 

Saya memberi tali terlebih dahulu kepada Saiful dan melihatnya mulai mengikat Pak Wawan mulai dari mulut, tangan hingga kaki. 

"Mengapa semua ini bisa terjadi?" tanya Felicia yang terlihat pucat, menangis dan putus asa.

"Mungkin aku bisa sedikit memahami kejadian ini" ujarku yang mulai menganalisa kejadian di otakku secara bertahap dibarengi bau busuk kentang yang membuatku susah menganalisa kejadian-kejadian tersebut.

Belum sempat menjelaskan beberapa orang yang terkena gigitan, cabikan hingga ke Saiful mulai menggelepar-gelepar aneh dengan gejala yang sama seperti yang terjadi pada Pak Wawan awalnya, seluruh tubuh mereka mulai berlubang dan mengeluarkan seperti tanaman yang tidak jelas apa, mata hitam mengeluarkan darah dan mulai bersikap agresif. Saiful dan beberapa staff yang terinfeksi itu mulai menyerang seluruh orang termasuk Aku, Pak Adi dan Felicia. Terjadi genosida yang tidak tahu bisa menyalahkan siapa pada saat itu. Mutilasi dan kekejaman para zombie itu membuatku berpikir untuk segera berdoa sebelum kematianku selanjutnya.

Tetapi, Suara Felicia yang meminta tolong seakan membangkitkan jiwa perjuangan ku kembali.

"Tolong aku Proton... tidak..." Teriak Felician dikepung oleh 3 staff pemasaran yang sudah terinfeksi. 

Aku kemudian melempar kursi untuk mengalihkan perhatian zombie-zombie itu dan mengajak Felicia untuk berlari menuju ruangan security yang berada di sebelah kantor pemasaran. Kami berlari melewati zombie-zombie itu dan berencana mengunci pintu kantor tersebut dari luar. Dari kejauhan terdengar suara Pak Adi meminta tolong untuk diselamatkan. Tentu saja aku tidak mempedulikannya, berbeda dengan Felicia yang sepertinya ingin menyelamatkan Pak Adi.

"Proton, tolong aku... tolong selamatkan Pak Adi, aku memohon aku meminta, tolonglah aku proton" meminta dengan berlutut ke arahku, yang tidak bisa berbuat apa apa.

Aku merasa iba dengan Felicia dan memutuskan masuk ke dalam kantor itu sekali lagi dan menyelamatkan Pak Adi. Aku kemudian mengalihkan zombie-zombie itu dengan lemparan alat-alat kantor dan mematikan lampu kantor agar sulit dikejar. Aku menarik Pak Adi yang dipojokkan dan memaksanya berlari ke arah pintu keluar yang disana ada Felicia. 

"Ayo berlari orang mesum, dasar lemah" ucapku

Pak Adi berlari ke arah pintu bersamaku, tetapi hampir mendekati pintu saiful yang sudah terinfeksi memegang kakiku membuat aku terjungkal dan hampir ditarik masuk kembali. Tidak lama Felician memukul tangan Saiful dengan alat pemadam kebakaran dan menyelamatkan nyawaku kala itu. aku bergegas mengangkat kaki dan mengunci pintu. 

Kami bergegas masuk ke dalam kantor security yang dikunci dari dalam.

"Biarkan kami masuk dasar security penakut, kalian aku gaji brengsek" Ujar Pak Adi sambil mendobrak-dobrak pintu.

Beberapa security kemudian membuka pintu dan membiarkan kami masuk. 

"Dasar makhluk rendahan, apa yang sudah kau lakukan dengan kantor ini?" tegas seorang security pemberani dan baik hati bernama Tirsa.

"Tenang Pak Tirsa, ini bukan kesalahan siapa-siapa atau mungkin kita belum tau salahnya siapa, tapi yang pasti aku mulai paham apa yang terjadi" Ujarku percaya diri

Selagi berpikir dan menelaah kembali di kantor yang tertutup rapat dan gelap tersebut, kami melihat beberapa CCTV dan kengerian di sana, banyak pembunuhan dan kanibalisme, banyak yang berteriak saat kakinya dikunyah atau menangis saat perutnya dikoyak. Aku hanya bisa terpaku lagi hingga aku melihat hal yang membuatku takut dan putus asa.

Kiana dan Bale sedang berada di pojok kantor...

Diam...

Mulai dicari oleh para zombie haus darah itu...

Apa sahabatku akan mati...

Aku harus bertindak...

Tapi apakah aku bisa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamster Kecilku

Dokterku yang Tinggal di Bulan